HOTGAME ::>>
Nomor 197
Kamis 24 Mei 2007

Mailing List

Newsletter

GMIC 2007
FEATURE


"Kalau doyan Tamagochi, coba pelihara hewan di rumah."

Kalau hobi bola, pelariannya pasti game bola.

Videogame sebenarnya dapat meningkatkan agresivitas.



Jangan Overdosis

“Apapun bentuk kegiatan, termasuk main game, sah -sah saja, asalkan porsinya harus diatur dengan baik.” (rmd/regie)

Perkembangan industri game yang melesat sepuluh tahun terakhir ini nggak luput dari komentar ‘miring’ dan reaksi negatif dari berbagai kalangan. Pro dan kontra terhadap videogame dan game komputer sering terjadi, terutama di Amrik. Berbagai survei pun dilakukan. Sekilas sudah diulas di halaman-halaman sebelum ini. Begitu pula beberapa game ‘keras’ yang dituding sebagai salah satu pemicu timbulnya tindakan kekerasan yang dilakukan anak-anak dan remaja. Gamer-gamer lokal nggak ketinggalan ikut menimpali komentar yang kadang membuat mereka terpojok ini. Nah, sekarang giliran kamu mendengar komentar dari seorang psikolog. Beberapa waktu lalu HG sempat ngobrol-ngobrol dengan Dr. Rose Mini A.P., M.Psi, yang akrab disapa “Mbak Romy”.

Penyataan “videogame dapat meningkatkan agresivitas seseorang” memang ada benarnya, begitulah Mbak Romy mengawali perbincangan. “Pada dasarnya setiap orang memiliki dorongan untuk melakukan tindakan yang agresif. Faktor ini sering diabaikan,” sambungnya. “Namun, kenyataannya agresivitas kadang kala tidak bisa diungkapkan dengan bebas, karena terbentur oleh norma-norma.” Memang, sih kalau kita lagi merasa kesal, misalnya, nggak mungkin mukul atau ninju orang seenaknya, kan? Sedangkan di dunia maya seperti game, orang bisa sepuasnya melampiaskan emosi. Agresivitasnya pun tersalurkan. “Dengan begitu, anak yang tadinya kurang percaya diri dalam kehidupkan sehari-harinya bisa menjadi pe-de sekali saat sedang main game.” Inilah yang menjadi daya tarik utama game menurut pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

Mbak Romy melanjutkan, “Keasyikan (main game) itu membuat anak ingin mengulang dan mengulangnya lagi. Padahal sesuatu yang overdosis pasti berdampak tidak bagus. Akibatnya dia tidak bisa melihat lagi kemampuan-kemampuan lain yang bisa dikembangkannya.” Dengan kata lain, anak akan terfokus pada satu hal. “Ini yang berbahaya. Sementara itu seorang anak seharusnya kaya akan macam-macam pengalaman dan aktivitas, “ ujar psikolog pendidikan ini. Berarti di sini peran orangtua sangat penting. Mereka wajib menawarkan berbagai pilihan aktivitas kepada anak-anaknya. “Variasi kegiatan ini merupakan cara untuk mengeliminasi keterfokusan terhadap satu aktivitas (dalam hal ini game),” jelas Mbak Romy. Kalau anak hanya sibuk dengan satu hal, maka pengalaman dan wawasannya juga terbatas dan bila anak menghadapi suatu masalah maka dia tidak punya alternatif lain. dalam memecahkan masalah tersebut .

Memang betul, perlu keseimbangan dalam melaksanakan aktivitas. Beliau menekankan, “Apapun bentuk kegiatan, termasuk main game, sah-sah saja, asalkan porsinya diatur dengan baik.” Anggap sajalah main game itu sebagai hobi, bukan kegiatan utama. “Karena hobi merupakan bagian dari kehidupan yang dapat memberikan kepuasan tertentu dan dapat mensuport hidup agar lebih menyenangkan.” Selain itu juga perlu keseimbangan antara yang nyata dan dunia maya. Mbak Romy memberi contoh, kalau kamu suka sama Tamagochi, cobalah pelihara hewan juga di rumah. Atau misalnya suka game sepakbola, dukunglah hobimu itu dengan main sepakbola di lapangan. Karena biar bagaimanapun juga manusia butuh interaksi dengan sesama dan lingkungan secara langsung.

So, ingat-ingat pesan Mbak Romy dan HG, ya … “Jangan main game secara berlebihan” alias “Jangan Overdosis” biar nggak bahaya.

Back

Next


     Copyright © 2000 HOTGAME All rights reserved.